Jumat, 03 September 2010

. ah, lagi lagi langit ..

.. aku ini sedang jatuh cinta,,

rasanya seperti langit disenja hari.. merona seperti lembayung yang berwarna jinnga..

bahkan ketika malampun, ia perbolehkan bintang dan bulan memakai panggung pertunjukkannya dan membiarkan jutaan cahaya melompat begitu indahnya.. hanya sekedar tuk menemaninya dalam sepi yang meronta..

dan ketika pagi tibapun, ia bisikkan pada mentari untuk perlahan timbul agar seseorang yang dicintainya dibumi tidak terbangun dari mimpi indahnya..

ah, segalanya terlihat begitu indah, bukan?

Iya, benar! Dia...

Dia mlihat ke atas, pada bintang

Pada bulan, kadang mentari dan awan

tapi Bukan padaku..

dan kemudian turunlah hujan..

padahal hanya rintik yang ia jatuhkan, tapi kemudian dia memaki, karena hujan sudah menghancurkan segala rencananya..

" ini semua karena langit " ujarnya,

ah, kalau sudah begini, masihkah terlihat begitu indah ?

padahal ketika hujan reda, ia berikan pelangi yang elok sebagai penggantinya agar langit tak terlihat buram..

hahahahahaha,

kau juga tidak tau, ya?

langit memang tak memiliki mata, tapi ia bisa menangis..

.. langit yang sakit ..

Dan mulai besok, aku akan terus bergumam,,

“Dewata... beta cinta buta, harta pelita mata menata pita tinta peta cerita, terbata gita derita kita...”

Iya, benar! Dia...

Dia melihat ke atas, pada bintang

Pada bulan, kadang mentari dan awan..

Bukan padaku...

Hemh... aku cuma langit tempat menggantungkan semua perhiasan indah itu.

Aku selalu ada di sana, tapi aku tak pernah ada dimatanya.

Dia tak pernah sadar, ketika dia menanti bulan yang enggan menatapnya, mencari bintang yang lelah menari untuknya, memuja awan yang meneduhi pandangannya, atau menghujat mentari yang membakar kulitnya...

Aku disana, menatapnya, memandanginya...

Melirik padanya, mencuri pandang darinya...

Dan itu membuatku sakit.

Kau tak tahu ya?

Langit tak berkulit, tapi bisa sakit...


oleh : G.Annisa